Januari 2012
Hari yang melelahkan setelah
seharian bermain2 dengan ponakan2 kecilku yang sedang berkumpul di rumah,
kubaringkan badanku di kasur dan terdengar suara Maher Zein dengan number
onenya tan da panggilan masuk dari handponeku. Sebuah nomer baru muncul di
layar handponku dan ku angkat.
“assalamualaikum”ucapku
mendahului salam di sana.
“waalaikum
salam”jawabnya yang membuat jantungku seperti berhenti berdetak. Suara yang
sangat aku kenal, suara seseorang yang pernah menjadi bagian indah dalam
sebagian episode masa laluku.
“siapa?”ucapku
pura-pura tak mengenal orang di sebrang sana .
“ini Nayla
kan?”tanyanya meyakinkan.
“ia, saya
bicara dengan siapa ya?”tanyaku lagi.
“Alif” ucapnya
singkat.
“O,,”. Jawabku
pendek.
“Sebelumnya gue
minta ma’af udah ganggu kamu”.
“gak ko’, oia
gimana kabarnya? Pastinya udah lulus kuliah kan?Tanyaku berusaca mencairkan
suasana. Dia tak menjawab hanya diam beberapa saat diantara kami, ternyata aku masih mengenalnya dia pasti
sedang dalam masalah. Tapi aku tak ingin kembali ke masa lalu biarlah dia yang
menjelaskan semuanya tak perlu lagi aku tanya kenapa dia.
“de’ ada waktu
gak?”tanyanya mengagetkanku. “Aku harus tetap tenang”batinku berbisik lirih.
“hmm, ada apa
ya sepertinya penting banget”.
“gue pengen
cerita, dan gue pengen ceritanya sama kamu”. Ucapnya dan kembali mengegetkanku.
Ya Robb jaga hati ini jangan sampai gemuruh itu kembali hadir.
“ia” jawabku
singkat.
“gue ngelakuin
kesalahan yang fatal”ucapnya mengawali ceritanya.
“maksudnya?”tanyaku
yan gmulai penasaran.
Akhirnya
ceritanyapun mengalir, cerita yang bagaikan sebuah sinetron membuatku sangat
terkejut. Dia bercerita bahwa dia sudah menikah tanpa resti dengan orang tua,
dan dia menikah hanya karena balas budi,
saat dia sedang kuliah orang tuanya memutuskan untuk tidak membiayai
kuliahnya dengan alasan karena dia gak gak lulus sampai tahun ke tujuh atau
baats akhir dari universitas tempanya belajar. Saat itulah perempuan itu datang
membantunya hingga dia bisa lulus. Dan diapun menikahi perempuan itu tanpa
restu orang tuanya hingga melahirkan seorang anak laki-laki.
Akhirnya orangtuanyapun mengetahui
dan memberikan pilihan perempuan itu atau keluarganya. Dan buatnya adalah
pilihan yang sulit. Akupun berkata “pilihlah yang lebih baik buat banyak pihak
tak Cuma untuk dirimu sendiri”
“gue udah milih
keluarga de’” ucapnya mantap.
“dan
meninggalkan keluaragamu?”tanyaku tak percaya.
“apa itu
pilihan yang terbaik menurutmu?”tanyaku tak percaya dengan keputusan yang dia
pilih.
“ia”. Jawabnya.
“jika memang
begitu pilihanmu jalanilah dan semoga tak ada yang tersakiti dari pilihanmu”. ucapku
Satu jam lebih dia bercerita dan dia
mengakhiri dengan mengatakan bahwa sekarang dia adalah duda beranak satu dan
mencari perempuan yan gmau menikah dengan dia.
Sama sekali tak ku pahami jalan
pikirannya, menginginkan segalanya dengan instan tanpa banyak bekerja. Seandainya
saja dia mau bekerja lebih keras sedikit saja, orang tuanya takkan menghentikan
membiayai kuliah jika dia kuliah 4 tahun sebagaimana biasanya, diapun tak perlu
menadi anak yang durhaka dengan menentang keinginan orang tuanya karena setiap
orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tak perlu ada
perempuan dan seorang anak yang menjadi korban. Seandainya saja dia mau sidikit
saja memikirkan manfaat dan mudharat yang akan dia terima dengan apa yang dia
lakukan.
Ya robb, rasa syukur tak terhingga
ku haturkan padaMu atas segala yang
telah dan akan Engkau anugrahkan dalam hidupku ini. Berapa banyak hal
yang kita sia-siakan dalam hidup ini.
Terkadang kita lebih
banyak mengeluh dengan satu masalah yang kita terima dari pada mensyukuri
beribu nikmat yang telah dia nugrahkanNya untuk kita.
Mulai sekarang belajarlah untuk
selalu bersyukur^_^