Selasa, 25 September 2012

Ceritaku


 Januari 2012
            Hari yang melelahkan setelah seharian bermain2 dengan ponakan2 kecilku yang sedang berkumpul di rumah, kubaringkan badanku di kasur dan terdengar suara Maher Zein dengan number onenya tan da panggilan masuk dari handponeku. Sebuah nomer baru muncul di layar handponku dan ku angkat.
“assalamualaikum”ucapku mendahului salam di sana.
“waalaikum salam”jawabnya yang membuat jantungku seperti berhenti berdetak. Suara yang sangat aku kenal, suara seseorang yang pernah menjadi bagian indah dalam sebagian episode masa laluku.
“siapa?”ucapku pura-pura tak mengenal orang di sebrang sana .
“ini Nayla kan?”tanyanya meyakinkan.
“ia, saya bicara dengan siapa ya?”tanyaku lagi.
“Alif” ucapnya singkat.
“O,,”. Jawabku pendek.
“Sebelumnya gue minta ma’af udah ganggu kamu”.
“gak ko’, oia gimana kabarnya? Pastinya udah lulus kuliah kan?Tanyaku berusaca mencairkan suasana. Dia tak menjawab hanya diam beberapa saat diantara kami,  ternyata aku masih mengenalnya dia pasti sedang dalam masalah. Tapi aku tak ingin kembali ke masa lalu biarlah dia yang menjelaskan semuanya tak perlu lagi aku tanya kenapa dia.
“de’ ada waktu gak?”tanyanya mengagetkanku. “Aku harus tetap tenang”batinku berbisik lirih.
“hmm, ada apa ya sepertinya penting banget”.
“gue pengen cerita, dan gue pengen ceritanya sama kamu”. Ucapnya dan kembali mengegetkanku. Ya Robb jaga hati ini jangan sampai gemuruh itu kembali hadir.
“ia” jawabku singkat.
“gue ngelakuin kesalahan yang fatal”ucapnya mengawali ceritanya.
“maksudnya?”tanyaku yan gmulai penasaran.
Akhirnya ceritanyapun mengalir, cerita yang bagaikan sebuah sinetron membuatku sangat terkejut. Dia bercerita bahwa dia sudah menikah tanpa resti dengan orang tua, dan dia menikah hanya karena balas budi,  saat dia sedang kuliah orang tuanya memutuskan untuk tidak membiayai kuliahnya dengan alasan karena dia gak gak lulus sampai tahun ke tujuh atau baats akhir dari universitas tempanya belajar. Saat itulah perempuan itu datang membantunya hingga dia bisa lulus. Dan diapun menikahi perempuan itu tanpa restu orang tuanya hingga melahirkan seorang anak laki-laki.
            Akhirnya orangtuanyapun mengetahui dan memberikan pilihan perempuan itu atau keluarganya. Dan buatnya adalah pilihan yang sulit. Akupun berkata “pilihlah yang lebih baik buat banyak pihak tak Cuma untuk dirimu sendiri”
“gue udah milih keluarga de’” ucapnya mantap.
“dan meninggalkan keluaragamu?”tanyaku tak percaya.
“apa itu pilihan yang terbaik menurutmu?”tanyaku tak percaya dengan keputusan yang dia pilih.
“ia”. Jawabnya.
“jika memang begitu pilihanmu jalanilah dan semoga tak ada yang tersakiti dari pilihanmu”.   ucapku
 Satu jam lebih dia bercerita dan dia mengakhiri dengan mengatakan bahwa sekarang dia adalah duda beranak satu dan mencari perempuan yan gmau menikah dengan dia.
            Sama sekali tak ku pahami jalan pikirannya, menginginkan segalanya dengan instan tanpa banyak bekerja. Seandainya saja dia mau bekerja lebih keras sedikit saja, orang tuanya takkan menghentikan membiayai kuliah jika dia kuliah 4 tahun sebagaimana biasanya, diapun tak perlu menadi anak yang durhaka dengan menentang keinginan orang tuanya karena setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tak perlu ada perempuan dan seorang anak yang menjadi korban. Seandainya saja dia mau sidikit saja memikirkan manfaat dan mudharat yang akan dia terima dengan apa yang dia lakukan.
            Ya robb, rasa syukur tak terhingga ku haturkan padaMu atas segala yang  telah dan akan Engkau anugrahkan dalam hidupku ini. Berapa banyak hal yang kita sia-siakan dalam hidup ini.
Terkadang kita lebih banyak mengeluh dengan satu masalah yang kita terima dari pada mensyukuri beribu nikmat yang telah dia nugrahkanNya untuk kita.
            Mulai sekarang belajarlah untuk selalu bersyukur^_^
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar