Kisah pertama
Pagi itu, untuk yang ketiga kalinya dalam seminggu hujan turun di pagi hari ku buka jendela kamarku dinginnya semakin terasa, semakin kurapatkan jaket yang sedang kukenakan sambil kunikmati rintik hujan lewat jendela kamarku, sesekali percikannya sampai ke wajahku. ku pejamkan mata dan kurasakan sensasinya. dingin, nyaman, dan seperti alunan irama yang indah.
Hampir satu jam hujan tak jua menandakan akan berhenti, walau tak cukup deras tapi membuat jalanan di depan tempat tinggalku mulai di genangi air, jalanan masih sepi padahal jam sudah menunjukkan pukul 08.45 wib dan biasanya pada jam segini jalanan di depan tempat tinggalku rame dengan segala aktifitas yang beragam. mungkin mereka masih menarik selimutnya dan meneruskan mimpi mereka, pikirku sambil tersenyum.
Setelah satu jam lebih menunggu akhirnya hujan mulai reda, dan mataharipun mulai menampakkan sinar dan kehangatannya, dan setengah kemudian jalana di depan tempat tinggalku mulai ramai, seperti biasanya memulai aktifitas sehari-hari mereka.
Ini hari terakhirku berada di rumah, karena besok aku akan merantau, lebih tepatnya melanjutkan studyku di ibukota, aku mendapatkan beasiswa untuk kuliah di sebuah univversitas islam negri di jakarta, meninggalkan keluargaku dan tempat tinggalku untuk semestara waktu, tapi aku pasti kembali. itu janjiku
***
Hari ini aku akan berangkat untuk melajutkan studyku, semua keperluan telah ibuku persiapkan sejak jauh-jauh hari, aku lihat wajah ibu sedih mungkin karena anak semata wayangnya harus pergi dan akan tinggal sendirian di ibukota, dan aku sangat paham akan hal itu. pemberitaan di media masa maupun televisi tentang maraknya pemerkosaan, orang yang di bius membuat ibuku khawatir akan keselamatan diriku, hal yang pasti akan di rasakan semua orang tua pastinya ketika anak perempuannya akan jauh darinya.
Awalnya ibuku sangat keberatan ketika aku mengatakan akan bahwa aku lulus beasiswa kuliah di jakarta, tapi begitu aku meyakinkan bahwa disana aku akan tinggal dengan mba' yang juga dulu adalah alumni dari pesantren yang sama dan ibuku sangat tahu tentang dia akhirnya ibuku negizinkan dengan syarat setiap hari harus mengabari dengan telepon maupun sms. aku hanya mengangguk tersenyum mendengar permintaan ibuku.
Jam 09.05 bus karina yang akan membawaku akhirnya datang, akupun berpamitan. aku melihat mata kedua orng tuaku berkaca-kaca menahan tangis untuk melepasku, aku berusaha tersenyum dan berusaha meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja, tak ingin membuat orangtuaku semakin sedih.
Di bus yang ku tumpangi aku menumpahkan air mataku yang sejak tadi aku tahan, tak peduli para penumpang sedang melihtku, mungkin ada yang aneh atau ikut merasakan kesedihanku hingga akhirnya aku tertidur dengan pulas. aku terbangun ketika hanphoneku bergetar tanda sms masuk, ternyata dari ibuku yang menanyakan sudah sampai dimana, aku melihat keluar ternyata hari mulai senja dan aku tidak melihat tulisan yang menunjukkan tempat dimana kau berada sekarang. akupun menanyakan pada laki-laki yang duduk di sampingku, ternyata sudah melewati lamongan sebentar lagi akan berhenti di Tuban untuk makan dan shalat begitu katanya. dan akupun langsung menelepon ibuku mengatakan keberadaannu.
Perjalanan yang melelahkan, duduk di bus selama hampir 24 jam cukup membuat badanku sakit, dan pagi ini aku sudah berada di ibukota, kota termacet ke 14 di dunia, hebat. dengan kondisi rakyat yang lebih banyak yang berada dibawah garis kemiskinan, tapi setiap tahunnya angka mobil masuk indonesia semakin meningkat. sungguh ironis.
jam menunjukkan pukul 08.15 ketika kondektor bilang sudah sampai di Pool karina yang merupakan pemberhentian terakhir untuk pengendara bus ini, mba'ku sudah menunggu sejak setengah jam yang lalu. mungkin takut aku kesasar karena masih baru disini.
Dari tempat pemberhentian tadi ke kosan tempat mba'ku tinggal sebenarnya dekat, cuma sekali naik angkot, namun berhubung jalananya macet akhirnya perjalanan yang harusnya bisa ditempuh 15 menit bisa sampai 1 jam baru sampai tujuan.
Akhirnya perjalanan sampai dan kaupun langsung bersih-bersih dan makan, setelah itu aku pamit istirahat untuk sekedar meluruskan badan yang sehari semalem duduk di bus.
***
berawal dari facebook
seminggu sudah aku berada disini, setelah mondar mandir menyerahkan berkas dan keperluan lainnya akhirnya hari ini aku akan mulai masuk kuliah. akupun mmepersiapkan diri sepagi mungki, jarak dari kosan ke kampus sekitar 15 menit dengan jalan kaki, jadi aku harus berangkat 15 menit lebih awal dari jadwal masuknya.
hari pertama kuliah bertemu dengan teman-teman dari banyak tempat di Indonesia, budaya yang berbeda, ada yang dari Medan, Lampung, Palembang, Lombok, Bandung, dan masih banyak lagi. beginilah pembelajaran multikultural dimana banyak perbedaan berada dalam satu tempat untuk sama-sama menuntut ilmu. suasana yang beru pertama kali kualami.
pengalaman baru aku dapat, teman baru baru aku dapat, dan ilmu baru juga aku peroleh, alhamdulillah
فبأيّ آلآءربّكما تكذّبن
aku tersenyum dan melangkahkan kakiku untuk pulang ke kosan, sesampainya di sana akupun menyalakan laptop dan membuka akun facebook yang sudah setengah bulan tidak aku buka, ada 102 pemberitahuan yang masuk dan 25 permintaan pertemanan, serta 15 pesan masuk, yang hampir semuanya mengucapkan selamat atas kelulusanku, hingga aku terdiam pada sebuah pesan dari orang yang selama ini menjadi temanku diskusi dan belajar banyak hal, walaupun aku sendiri tak tau siapa dia dan dari mana, dia hanya menggunakan nama facebooknya "Angin syurga", sejak pertama kali meminta pertemanan orang ini selalu menyita perhatianku, ntah dari status-statunya ataupun comment-commentnya yang terkadang membuatku kebingungan untuk menjawabnya, menyinggungku yang terkadang sedang berada di batas "tak normal". pesannya kali ini kembali membuatku mati kutu " sudah jadi anak jakarte neh, jangan sampai lupa shalat, jilbab bukan sekedar hiasan di kepala saja, tapi jilbab adalah identitasmu". pesan yang singkat namun membuatku beristighfar. jilbab, yang mungkin untuk sebagian orang hanya sebagai trendy saja, hanya menutu kepala dengan berbagai macam pola hingga yang seharusnya tertutupi malah di pertontonkan, dan hal itu memang sedang marak terjadi di kalangan mahasiswa yang haus akan mode dan fasion terbaru yang terkadang tak sesuai dengan syar'i.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar