Sabtu, 30 Maret 2013

Aku, Purnama, dan Matahari

Aku suka hujan, mungkin begitulah kata-kata yang selalu aku ucapkan ketika hujan turun. tapi adakah yang tau kenapa aku begitu menyukai hujan? aneh. mungkin begitulah kebanyakan orang akan beranggapan atau mungkin akan mengataiku seperti anak kecil suka main hujan-hujanan. hehe. tapi biarlah semuanya beranggapan seperti apa yang penting aku akan tetap suka hujan.

Hari ini Hujan turun, tak deras tapi cukup membuat dedaunan basah, tetesannya indah, irama yang nyata, nyanyian alam terindah, begitulah aku menyebutnya. tapi kali ini aku tak hanya akan berkisah tentang hujan, tapi aku juga akan berkisah tentang Purnama. Purnama itu hanya semusim namun saat purnama cahayanya indah, walau kita tau cahaya Purnama hanya pantulan dari cahaya Matahari, tapi tetap saja saat purnama datang tak terlintas sedikitpun tentang Matahari dalam pikirku, karena bagiku Purnama indah dengan sendirinya bukan karena Matahari.

Purnama yang sedang kunikmati itu kini sedang gerhana, gerhana yang sempurna, tapi ternyata gerhana itu menyadarkanku walau Purnama membutuhkan Matahari tetap saja Purnama itu berbada dengan Matahari dan seperti apapun Purnama akan selalu indah walau tanpa cahayanya. tapi aku merasa purnama merasa tak ada karena Matahari. aku mencoba memahami bahasa Purnama, mengatakan padanya Matahari hanya membantunya memberi cahaya bukan untuk menjadi bayang-bayangnya, tapi dia masih merasa dia tak ada jika tak ada Matahari. aku berkata bahawa dengan atau tanpa cahaya Matahari aku akan tetap memandang purnama, tak berubah, Purnamapun kembali tersenyum dan mulai kembali menerima cahaya Matahari.

setelah beberapa waktu berlalu setelah kejadian itu aku menulis surat untuk Purnama,

untukmu Purnama
Dahulu aku mungkin memang selalu menunggu Matahari terbit, karena waktu itu aku takut kegelapan, dan Matahari selalu hadir setiap pagi menemaniku melewati hari yang kelam, mengajariku menyayangi alam semesta, walau terkadang alam tak ramah padaku mengajariku membaca pertanda untuk mewujudkan legenda pribadi, hingga suatu pagi aku tak menemukan Matahari di pagiku, awan begitu gelap, aku terus menunggu tapi awan gelap itu tak juga berakhir, dan mengabariku bahwa Matahari tak bisa lagi menemani hari-hariku. aku kecewa, tapi aku tak pernah membenci Matahari, karena cahayanya yang masih dibutuhkan seluruh alam, dan kemudian dia mengajariku untuk berani dalam gelap, dan dalam gelap aku meneukan cahaya yang indah, semakin hari semakin terlihat indah, hingga aku menemukanmu Purnama. 

seindah apapun Purnama, dia terlalu jauh untuk ku sentuh karena aku hanya bisa memandangmu dari bumi, tapi hal itu tak akan menghentikanku untuk tak memangadangmu lagi. jangan pernah berhenti untuk bersinar:-)

Jumat, 29 Maret 2013

Tanpa Judul

Dunia ini indah, semuanya pasti sepakat akan pernyataan ini jika hati mereka sedang dalam kondisi yang bahagia, dan akan beranggapan sebaliknya ketika dalam keadaan sedang bersedih dan berduka, sangat subjektif. 

Kenapa Manusia seperti itu? apa yang membuat pikiran subjektif lebih sering menguasai pemikiran manusia? bukankah lebih baik memandang sesuatu itu tak hanya dari satu sudut pandang? semuanya masih menjadi pertanyaan besar bagiku.

Hari ini aku seperti melihat taman yang penuh dengan mawar putih tak jauh dari tempatku berdiri, aku ingin segera ke tempat itu, karena selama ini tempat itu selalu aku impikan, dan ketika aku tau bahwa ia nyata aku berusaha untuk segera ke tempat itu, tapi aku merasa caraku mungkin salah ketika melangkah, aku terlalu terburu-buru dan tidak tau sedang ada jurang yang dalam didedapku, namun taman yang penuh mawar putih yang ingin kudatangi tepat berada di seberang jurang yang sangat dalam tersebut. aku terlalu terburu-buru karena takut orang lain akan mendahuluiku sampai di tempat itu, aku terlalu tekut orang lain akan menganggap tempat itu indah seperti yang ada dalam pikiranku. aku berlari dan tak menghiraukan rintangan yang ada di depanku, walaupun jika aku mau belajar untuk bersabar rintangan itu akan mudah kulewati dan tak akan menyakitiku. 

Lariku semakin kencang ketika tempat itu mulai terlihat mata kepalaku, batu kerikil yang tajam tak terasa ketika melukai kakiku yang tanpa alas, aku tak peduli, keinginanku lebih besar untuk segera sampai di tempat itu dari pada rasa sakit ini dan kemudian aku hampir terjatuh. kau berhenti, jurang itu seperti tak berdasar, gelap dan sepi. dan kemudian di tempat itulah sakit di kedua kakiku begitu terasa. sakit ini begitu terasa bukan karena lukanya, tapi karena jurang ini begitu dalam, dan aku merasa mulai putus asa sedangkan tempat yang ingin kudatangi sudah begitu nyata didepanku.

Aku terduduk, tapnpa terasa air mata menetes, "aku hanya bisa sampai disini untuk saat ini" ucapku dalam hati. 
"Tungggulah, aku pasti sampai di tempat itu, walau tak sekarang. akan kusembuhkan dulu luka ini dan kemudian ketika luka ini sembuh aku bisa menikmati Mawar putih itu tanpa teringat lagi luka ini". tekadku dalam hati.

Kamis, 28 Maret 2013

Karena Kita Istimewa

Pagi itu aku berjalan-jalan di taman kota, hari libur seperti saat ini membuat taman ramai oleh orang yang sedang berlibur dan memilih taman sebagai tempat untuk sekedar menikmati hari libur mereka, ada yang bersama keluarganya, pasangannya, dan mungkin teman-teman mereka. Aku memilih duduk di bawah pohon cemara yang berada di pojok taman itu, dari sana aku menikmati aktifitas-aktifitas orang itu, tanpa sengaja mataku tertuju pada seorang perempuan yang ku prediksi berusia di atas 25 tahun yang sedang duduk tak jauh dari tempatku duduk, wajahnya tak cantik hanya saja senyum yang selalu tersungging dari wajahnya memmbuatnya terlihat cantik dan ramah, dia sedang asih dengan buku bacaannnya sambil sesekali tersenyum dan mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang di bacanya ketika ada orang yang sedang menyapanya, sepertinya orang itu cukup di kenal disini.

Tak berapa lama sepertinya perempuan itu akan segera pergi, dia mengemasi buku yang sedang di bacanya dan kemudian berdiri, tapi betapa terkejutnya aku ketikan melihanya kakinya yang tak seperti manusia nornal lainnya, di berjalan pincang, dan dari kondisinya kukira dia terkena penyakit poliomielitis. Dengan wajah ramahnya yang selalu tersungging senyum dia berjalan tanpa merasa risih dengan pandangan orang-orang yang berada di taman itu dan sekali-kali dia menyapa orang yang dikenalnya. ah, hatiku sersentuh melihat pemandangan itu, betapa dengan ketidak sempurnaan yang dimilikinya menjadikan dia tampak istimewa dimataku, dari matanya aku melihat kebahagiaan seakan dia tak berbeda dari yang lain dan dari ketidak sempurnaan itu aku melihat keistimewaannya.

Setiap manusia berbeda, dan terserah masing-masing manusia itu akan menjadikan perbedaannya itu sebagai suatu kekurangan atau menjadikannya sebagai sesuatu yang istimewa. yang terpenting tak perlu menjadi orang lain untuk merasa hebat, cukup jadilah dirimu sendiri dan percayalah pada kemampuanmu^_^