Kali ini masih berkisah tentang aku
dan lelaki penggenggam senja, namun kali ini dia tak lagi menggenggam senja
tapi kini dia mebisikkan hujan dihatiku, dingin, bahkan sempat membeku.
Musim hujan kini telah datang dan
hampir tiap hari hujan turun terkadang hujan lebat, terkadang hanya gerimis dan
terkadang pula disertai angin kencang dan petir. Tapi seperti biasa hujan
selalu kunantikan setiap harinya seperti saat ini. Awan mendung mulai menggantung
dilangit perlahan menutupi sinar matahari yang berada mulai meninggi.
Aku mengajaknya menyusuri lapangan tempat kami
dulu biasa bermain, dan tak lama kemudian hujanpun turun. “Ini yang aku
tunggu”hatiku berkata dan akupun tersenyum
“kenapa tersenyum?” tanyanya saat tanpa aku
sadari dia memperhatikan aku tersenyum.
“cepet pulang yuk, hujan nih” ajaknya namun
aku tetap diam ditempat.
Hujanpun semakin deras dan akupun
tetap diam menikmati setiap tetesannya menyentuh kulitku, tak kupedulikan dia
yang menarik tanganku untuk segera mencari tempat berteduh, tapi aku tak
bergerak sedikitpun dan akhirnya diapun menyerah dan duduk menemaniku menikmati
hujan.
“kamu berubah”ucapku lirih.
“maksud kamu apa?”tanyanya.
“ayo keliling lapangan, seperti permainan kita
dulu”. Ucapku dan langsung berlari tanpa menghiraukan jawabannya.
Dia hanya diam, tak bergerak dari tempat dia
duduk, dia hanya memperhatikanku berlari mengelilingi lapangan menikmati tiap
tetes air yang turun. Dan dia masih diam tak bergeming sedikitpun. Aku
tersenyum tapi aku menangis, air mataku dan hujan menyatu dan tak akan ada yang
tahu aku menangis tak terkecuali dia. Aku menikmati suasana saat ini, tak perlu
ada tanya apalagi alasan. Untuk saat ini semua itu tak aku butuhkan aku hanya
ingin menikmatinya saja.
Aku
lelah dan akhirnya aku menyerah, seperti hujan yang kini tinggal gerimis. Aku duduk
disebelahnya duduk menunggu hujan benar-benar berhenti.
“kita pulang yuk?” ajakku dan beranjak dari
tempatku duduk, tapi belum sepenuhnya berdiri tiba-tiba dia menarikku kembali
duduk didekatnya.
“Masih gerimis, kita tunggu sampai hujan
benar-benar berhenti” ucapnya dengan ekspresi yang tak kumengerti. Kamipun diam
dan yang terdengar hanya rintik hujan yang mulai berhenti, hingga hujan
berhenti dan kami memutuskan pulang tanpa ada kata-kata. Dan hari ini berakhir
dalam diam.
***
Malam
kulalui dengan membaca buku yang baru aku beli, sebuah novel tentang kegigihan
seorang perempuan untuk mewujudkan mimpinya ditengah adat dan budaya yang
menentang, tiba-tiba handphone-ku berdering tanda ada pesan masuk, ternyata
dari dia. Dia menanyakan kondisiku setelah seharian hujan-hujanan dan akupun
menjawab bahwa aku baik-baik saja. Kemudian dia kembali membalas smsku “air
mata dan tetesan hujan takkan pernah bertemu serapi apapun kamu berusaha
menutupinya” dan aku hanya tertegun membaca pesannya. Dia tau apa yang kurasa
tapi dia hanya diam, dia paham apa yang aku inginkan tapi dia hanya diam, dia
mengerti tentang hatiku tapi dia diam tanpa mampu untuk membalasnya, akupun
akan diam batinku berkata lirih dan kemudian aku terlelap dalam tidur.
***
Akhirnya,
seperti apa kisah yang akan aku inginkan? Berakhir bahagia? Pastinya. Bahagia
yang seperti apa? Bahagia buat siapa? Hanya untukku? Untuk dia? Atau untuk
kita?
Ternyata kali ini jariku terlalu kaku untuk
melanjutkan kisah ini, belum berakhir dan mungkin tak pernah akan berakhir
karena memang tak ada yang dimulai. aku tak bisa egois tapi aku tak suka akhir yang menyedihkan
atau lebih baik menggantung saja dan membiarkan setiap kepala melanjutkan
seperti apa yang mereka inginkan? Ternyata aku terlalu penakut untuk membuka
mata saat gelap. Bukan, bukan karena takut, tapi alasannya karena aku tahu
membuka mata saat gelap sama halnya dengan menutupnya. Sama-sama tak bisa
melihat apa yang seharusnya kulihat. Tapi mungkin aku memang tak ingin melihatnya…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar