Rabu, 20 November 2013

Masih Tentang Hujan





Kali ini masih berkisah tentang aku dan lelaki penggenggam senja, namun kali ini dia tak lagi menggenggam senja tapi kini dia mebisikkan hujan dihatiku, dingin, bahkan sempat membeku.
Musim hujan kini telah datang dan hampir tiap hari hujan turun terkadang hujan lebat, terkadang hanya gerimis dan terkadang pula disertai angin kencang dan petir. Tapi seperti biasa hujan selalu kunantikan setiap harinya seperti saat ini. Awan mendung mulai menggantung dilangit perlahan menutupi sinar matahari yang berada mulai meninggi.
Aku mengajaknya menyusuri lapangan tempat kami dulu biasa bermain, dan tak lama kemudian hujanpun turun. “Ini yang aku tunggu”hatiku berkata dan akupun tersenyum
“kenapa tersenyum?” tanyanya saat tanpa aku sadari dia memperhatikan aku tersenyum.
“cepet pulang yuk, hujan nih” ajaknya namun aku tetap diam ditempat.
Hujanpun semakin deras dan akupun tetap diam menikmati setiap tetesannya menyentuh kulitku, tak kupedulikan dia yang menarik tanganku untuk segera mencari tempat berteduh, tapi aku tak bergerak sedikitpun dan akhirnya diapun menyerah dan duduk menemaniku menikmati hujan.
“kamu berubah”ucapku lirih.
“maksud kamu apa?”tanyanya.
“ayo keliling lapangan, seperti permainan kita dulu”. Ucapku dan langsung berlari tanpa menghiraukan jawabannya.
Dia hanya diam, tak bergerak dari tempat dia duduk, dia hanya memperhatikanku berlari mengelilingi lapangan menikmati tiap tetes air yang turun. Dan dia masih diam tak bergeming sedikitpun. Aku tersenyum tapi aku menangis, air mataku dan hujan menyatu dan tak akan ada yang tahu aku menangis tak terkecuali dia. Aku menikmati suasana saat ini, tak perlu ada tanya apalagi alasan. Untuk saat ini semua itu tak aku butuhkan aku hanya ingin menikmatinya saja.
            Aku lelah dan akhirnya aku menyerah, seperti hujan yang kini tinggal gerimis. Aku duduk disebelahnya duduk menunggu hujan benar-benar berhenti.
“kita pulang yuk?” ajakku dan beranjak dari tempatku duduk, tapi belum sepenuhnya berdiri tiba-tiba dia menarikku kembali duduk didekatnya.
“Masih gerimis, kita tunggu sampai hujan benar-benar berhenti” ucapnya dengan ekspresi yang tak kumengerti. Kamipun diam dan yang terdengar hanya rintik hujan yang mulai berhenti, hingga hujan berhenti dan kami memutuskan pulang tanpa ada kata-kata. Dan hari ini berakhir dalam diam.

***
            Malam kulalui dengan membaca buku yang baru aku beli, sebuah novel tentang kegigihan seorang perempuan untuk mewujudkan mimpinya ditengah adat dan budaya yang menentang, tiba-tiba handphone-ku berdering tanda ada pesan masuk, ternyata dari dia. Dia menanyakan kondisiku setelah seharian hujan-hujanan dan akupun menjawab bahwa aku baik-baik saja. Kemudian dia kembali membalas smsku “air mata dan tetesan hujan takkan pernah bertemu serapi apapun kamu berusaha menutupinya” dan aku hanya tertegun membaca pesannya. Dia tau apa yang kurasa tapi dia hanya diam, dia paham apa yang aku inginkan tapi dia hanya diam, dia mengerti tentang hatiku tapi dia diam tanpa mampu untuk membalasnya, akupun akan diam batinku berkata lirih dan kemudian aku terlelap dalam tidur.

***
            Akhirnya, seperti apa kisah yang akan aku inginkan? Berakhir bahagia? Pastinya. Bahagia yang seperti apa? Bahagia buat siapa? Hanya untukku? Untuk dia? Atau untuk kita?
Ternyata kali ini jariku terlalu kaku untuk melanjutkan kisah ini, belum berakhir dan mungkin tak pernah akan berakhir karena memang tak ada yang dimulai. aku tak bisa egois tapi aku tak suka akhir yang menyedihkan atau lebih baik menggantung saja dan membiarkan setiap kepala melanjutkan seperti apa yang mereka inginkan? Ternyata aku terlalu penakut untuk membuka mata saat gelap. Bukan, bukan karena takut, tapi alasannya karena aku tahu membuka mata saat gelap sama halnya dengan menutupnya. Sama-sama tak bisa melihat apa yang seharusnya kulihat. Tapi mungkin aku memang tak ingin melihatnya…







Tidak ada komentar:

Posting Komentar