Rabu, 13 November 2013

“SEGENGGAM SENJA”



Senja kali ini memberi warna berbeda, mendung begitu tebal mengantung di langit dan aku  masih berdiri disini,  sedang menunggumu ditempat kita berpisah beberapa tahun yang lalu.  Jarum jam mulai bergeser ke angka 6 dan hari semakin gelap,  rintik hujanpun mulai turun dan akupun masih berdiri  ditempat yang sama tak bergeser sedikitpun dan masih menunggumu, menunggumu dengan segenggam senja yang dulu pernah kau janjikan padaku.

Pagi itu cuaca cerah dengan mentari yang menghangatkan, seorang anak laki-laki berlari ke lapangan yang menjadi tempatnya bermain, wajahnya terlihat bingung seperti mencari sesuatu. Ditempat yang tak jauh dari lapangan itu ada seorang gadis kecil berkepang yang sedang tertawa di balik batu besar yang berada di pinggir lapangan itu. Yah, anak lelaki itu sedang mencari gadis yang bersembunyi yang selama sebulan ini menjadi temannya bermain.  Ntah apa yang membuat mereka begitu akrab dalam waktu yang sesingkat itu dengan begitu banyak perbedaan diantara mereka.
Anak lelaki itu mulai terlihat kesel karena orang yang dicarinya tak kunjung datang, diapun duduk di deket batu besar dimana gadis kecil itu bersembunyi. Namun akhirnya tawa gadis kecil itu terdengar dan membuat anak lelaki itu semakin kesel karena telah di”kerjain” si gadis berkepang itu namun kekesalan si anak lelaki itu segera lenyap dan berganti tawa bahagia khas anak-anak, yang tanpa beban. Dan sore itu si gadis berkepang tak pernah tau bahwa hari itu adalah hari terakhir dia bermain di lapangan itu dengan si anak lelaki yang telah menjadi sahabatnya, sahabat kecilnya.
Keesokan harinya gadis kecil itu berlari kelapangan, setiap hari sepulang sekolah begitulah kegiatannya, sejak anak laki-laki itu datang dan menjadi sahabatnya bermain hampir setiap hari. Tapi hari itu ternyata anak laki-laki itu tak datang mungkin dia pulang pikirnya karena memang dia bukan berasal dari desa ini, jadi dia sering pulang dan dalam sebulan dia akan datang lagi. Tapi kali ini pikiran gadis perempuan itu salah, karena kemaren adalah hari terakhirnya bermain dengan anak laki-laki itu dan dia tak pernah kembali lagi untuk bemain bersamanya di lapangan itu. Setiap hari gadis itu ta pernah lelah berlari ke lapangan hanya untuk menunggu anak laki-laki itu namun di atak pernah bertemu lagi.

Hujan turun semakin deras,  dan aku bahagia saat ini hujan turun, takkan ada yang tahu air mataku sedang menetes. Apakah kau masih seperti dulu? Datang dan pergi sesukamu? Apa kamu tak pernah tau bahwa aku selalu menunggumu datang, bahkan hingga saat ini. Aku mulai lelah disini menuggumu tanpa bosan, tapi kali ini aku benar-benar lelah, hari mulai malam dan aku takut sendiri, aku takut kegelapan, aku takut tak menemukan jalan pulang. Maafkan aku….
Akupun berbalik dan aku melihat purnama, ternyata hujan sudah berhenti dan hanya semilir angin yang aku rasakan dan tetap tanpa dirimu. Purnama membantuku menemukan jalan pulang malam ini.
Lelaki itu kini bukan lagi anak laki-laki yang dulu, semuanya telah berubah dan aku hampir tak mengenalnya, tapi hanya satu yang membuatku tetap mengenalnya; segenggam senja yang pernah kau janikan padaku dan dia berada di tempat itu, di tempat tadi aku berdiri menunggunya. Tapi Purnama telah mengantarku pulang dan aku tak mungkin membuat Purnama itu gerhana….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar