Senja kali ini memberi warna berbeda, mendung
begitu tebal mengantung di langit dan aku masih berdiri disini, sedang menunggumu ditempat kita berpisah
beberapa tahun yang lalu. Jarum jam
mulai bergeser ke angka 6 dan hari semakin gelap, rintik hujanpun mulai turun dan akupun masih
berdiri ditempat yang sama tak bergeser
sedikitpun dan masih menunggumu, menunggumu dengan segenggam senja yang dulu
pernah kau janjikan padaku.
Pagi itu cuaca cerah dengan mentari yang
menghangatkan, seorang anak laki-laki berlari ke lapangan yang menjadi
tempatnya bermain, wajahnya terlihat bingung seperti mencari sesuatu. Ditempat
yang tak jauh dari lapangan itu ada seorang gadis kecil berkepang yang sedang
tertawa di balik batu besar yang berada di pinggir lapangan itu. Yah, anak
lelaki itu sedang mencari gadis yang bersembunyi yang selama sebulan ini
menjadi temannya bermain. Ntah apa yang
membuat mereka begitu akrab dalam waktu yang sesingkat itu dengan begitu banyak
perbedaan diantara mereka.
Anak lelaki itu mulai terlihat kesel karena
orang yang dicarinya tak kunjung datang, diapun duduk di deket batu besar
dimana gadis kecil itu bersembunyi. Namun akhirnya tawa gadis kecil itu
terdengar dan membuat anak lelaki itu semakin kesel karena telah di”kerjain” si
gadis berkepang itu namun kekesalan si anak lelaki itu segera lenyap dan
berganti tawa bahagia khas anak-anak, yang tanpa beban. Dan sore itu si gadis
berkepang tak pernah tau bahwa hari itu adalah hari terakhir dia bermain di
lapangan itu dengan si anak lelaki yang telah menjadi sahabatnya, sahabat
kecilnya.
Keesokan harinya gadis kecil itu berlari
kelapangan, setiap hari sepulang sekolah begitulah kegiatannya, sejak anak
laki-laki itu datang dan menjadi sahabatnya bermain hampir setiap hari. Tapi
hari itu ternyata anak laki-laki itu tak datang mungkin dia pulang pikirnya
karena memang dia bukan berasal dari desa ini, jadi dia sering pulang dan dalam
sebulan dia akan datang lagi. Tapi kali ini pikiran gadis perempuan itu salah,
karena kemaren adalah hari terakhirnya bermain dengan anak laki-laki itu dan
dia tak pernah kembali lagi untuk bemain bersamanya di lapangan itu. Setiap
hari gadis itu ta pernah lelah berlari ke lapangan hanya untuk menunggu anak
laki-laki itu namun di atak pernah bertemu lagi.
Hujan turun semakin deras, dan aku bahagia saat ini hujan turun, takkan
ada yang tahu air mataku sedang menetes. Apakah kau masih seperti dulu? Datang
dan pergi sesukamu? Apa kamu tak pernah tau bahwa aku selalu menunggumu datang,
bahkan hingga saat ini. Aku mulai lelah disini menuggumu tanpa bosan, tapi kali
ini aku benar-benar lelah, hari mulai malam dan aku takut sendiri, aku takut
kegelapan, aku takut tak menemukan jalan pulang. Maafkan aku….
Akupun berbalik dan aku melihat purnama,
ternyata hujan sudah berhenti dan hanya semilir angin yang aku rasakan dan
tetap tanpa dirimu. Purnama membantuku menemukan jalan pulang malam ini.
Lelaki itu kini bukan lagi anak laki-laki yang
dulu, semuanya telah berubah dan aku hampir tak mengenalnya, tapi hanya satu
yang membuatku tetap mengenalnya; segenggam senja yang pernah kau janikan
padaku dan dia berada di tempat itu, di tempat tadi aku berdiri menunggunya.
Tapi Purnama telah mengantarku pulang dan aku tak mungkin membuat Purnama itu
gerhana….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar