Minggu, 14 April 2013

Rumah Kosong

Rumah itu sekarang kosong. rumah yang selama hampir satu bulan ini selalu kuperhatikan. rumah yang tidak terlalu besar namun selalu menyita perhatiannku. Halamannya tak terlalu luas namun sangat mempesona dengan hiasan bunga mawar putih yang terawat. di halaman itulah pula kau sering menikmati pemandangan indah, pemandangan sang penghuni rumah sedang bercanda gurau, terlihat harmonis dan bahagia.

Seminggu sudah rumah itu sepi, rumput-rumput liar mulai tumbuh di halaman rumah itu, taman kecil yang penuh mawar putihpun kini terlihat tak terawat, bunga-bunganya mulai mengering. daun-daun mulai memenuhi halaman rumah itu.

Dua minggu berlalu dan rumah itupun masih sepi tak berpenghuni, debu yang mulai tebal menutupi jendela-jendela rumah itu. kerinduanku mulai memuncak pada keindahan rumah itu, pada senyuman para penghuni, canda tawa mereka. kemana mereka pergi?? adakah mereka menempati rumah yang lebih besar? yang lebih indah dari rumah ini?

Minggu ketiga rumah itupun masih sunyi, Aku mulai lelah menunggu sang penghuni datang. tak ada lagi keindahan yang bisa kulihat, ku nikmati, karena kini yang ada hanya rumah kosong tak berpenghuni, rumah yang tak terawat.

Kini tak ada lagi keindahan dari rumah itu, tak ada lagi senyuman yang terukir dari setiap yang memandang ketika melihat rumah itu, melihat kemesraan sang penghuni rumah, melihat keramahan si pemilik rumah saat ada orang yang melewati rumah itu.

Kini yang ada hanya rasa iba dari setiap pasang mata yang memandang pada rumah itu, rumah yang kini di tinggal sang pemiliknya. tak akan ada keindahan ketika rumah itu kosong, tak akan ada yang merawat dan tak akan ada lagi yang peduli, bahkan tuk sekedar memandangnya.

Sabtu, 13 April 2013

Impian Sederhanaku

banyak hal yang terlintas dalam pikiranku namun tak mampu ku ucap, semuanya hanya mengendap dan tak pernah terealisasi menjadi nyata.

Hari ini aku mencoba, mengeluarkan apa yang selama ini berada dalam pikiranku, yang telah sekian lama mengendap dalam pikiranku dan tak pernah mampu atau mungkin lebih tepatnya belum berani aku keluarkan dari tempatnya bersembunyi.

Tulisan ini kuawali alasan awal mengapa aku ingin melanjutkan kuliahku, hal itu berawal  dari keinginanku untuk memperbaiki proses pendidikan yang khususnya berada di pedesaan seperti tempatku tinggal. 

Sekolah itu kecil, yang terdiri dari tiga jenjang pendikan mulai jenjang Taman Kanak-Kanak (TK), Madrasah Ibtidaiyah (MI), dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang dari kesemuanya siswanya hanya hanya terdiri dari kurang lebih 200 siswa.

Dulu sebelum ada bantuan dari pemerintah seperti Bos dll, masyarakat sekitar Madrasah tersebut dengan senang hati akan datang bergotong-royong untuk melanjutkan pembangunan ruang kelas tanpa di bayar seperserpun. tapi kini ketika pemerintah mulai memberikan bantuan data untuk pendidikan seperti sikap itu sudah mulai luntur. 

Sejak masih kuliah di S1 aku mulai mengabdikan ilmuku di tempat itu, tempat yang merupakan tempatku pertama kali mengenal bangku sekolah, banyak permasalahan yang ku temui, mulai dari memahami siswa dengan karakter yang berbeda, mulai yang aktif hingga yang super aktif menjadi tantangan buatku bagaimaan bisa "menguasai" kelas dengan karakter yang berbada.

Kemudian masalah selanjutnya, adalah dari segi SDM, baik itu berupa guru maupun kepegawaian yang berada dilembaga tersebut. masih banyak guru-guru yang belum melanjutkan kuliah sehingga belum bisa memahami bagaimana membuat RPP, dan penerapannya di kelas. kemudian sering "menelantarkan" siswa dengan datang terlambat ke sekolah.

berangkat dari itu, maka aku melanjutkan pendidikan, berharap ilmu yang aku peroleh bisa memperbaiki sekolah yang ada di desaku, impian yang sangat sederhana, tapi begitulah nyatanya.

Ketika aku mulai masuk dunia perkuliahan lagi, ada sedikit rasa kecewa, kenapa semua terori hanya untuk lembaga yang sudah maju, sekolah-sekolah atau institusi yang sudah besar, bahkan penelitian unutk tugas akhirpun kebanyakan dilakukan di sekolah-sekolah yang sudah besar. mungkin salah satu alasannya adalah bisa dijadikan contoh lembaga yang masih kecil untuk bisa menjadi besar. tapi tetap saja bagiku ada yang kurang, yaitu tak semuanya atau mungkin sangat sedikit sekali teori yang ku dapatkan di bangku kuliah untuk di teparkan di lembaga kecil di desaku.

masih banyak PR dalam hidupku yang belum terjawab
Semoga impian sederhananku bisa terwujud...^_^

Rabu, 03 April 2013

Tentang Diriku

Begitu banyak kisah yang kulalaui dalam hidup, cerita yang terkadang menguraas air mata dan tak jarang pula menyisakan senyuman. begitupun dengan tokoh yang singgah di hidupku, ada yang hanya sesaat namun ada pula yang bertahan hingga kini.

Semua peristiwa itu kembali teringat, tergambar jelas dalam fikiran, tentang perjalanan hidupku, bagaimana orang tuaku menyayangiku, mendidikku, kakak-kakak yang selalu menyayangiku, dan merekalah malaikat-malaikat dalam hidupku.

Beranjak remaja aku mulai mengenal lawan jenis, mulai bermain dengan rasa suka, hingga tak jarang orang tuaku selalu memperingatiku, tapi terkadang tak kupedulikan aku bilang aku hanya mengenal dan tak lebih dari hal itu. ah masa itu benar-benar masa yang hanya membuatku ketawa mengingatnya.

Usia remajaku berakhir, kemudian menyambut usia dewasaku. disinilah aku mulai mengaku bahwa aku sedang jatuh cinta tentang perasaan yang kualami saat mulai dekat dengan seseorang, tapi ternyata aku hanya lebih sering menangis karena hal yang aku anggap cinta. pada saat itu aku berfikir apa cinta memang menyakitkan? hingga beberapa waktu aku belajar untuk bisa memahaminya, tapi karena mungkin karena keegoisan yang menguasai hatiku hingga aku tak bisa berfikir jernih tuk bisa mengenal dan mengerti sejatinya 

Masa itu adalah masa yang cukup sulit untuk kulewati dan tanpa siapapun untuk tempatku berbagi. padahal aku tau hal itu bukan karena tidak ada yang bisa menjadi tempatku berbagi dan yang mau memahami aku tapi karena sikapku yang tak bisa membuka diri, padahal akutau selalu ada dia "malaikatku" yang memahamiku walau aku tak bicara, yang tau aku sedih walau aku tak cerita, yang segera menahanku sebelum aku terjatuh, dia akan selalu hadir walau terkadang dengan cara yang sedikit "tidak baik". tapi memang begitulah caranya menyayangiku.

Hari ini, aku mulai belajar berdiri, setelah cukup lama kaki ini lelah melangkah, terlalu takut untuk menjemput fajar esok hari. karena kini bukan lagi bicara tentang keegoisanku, bukna lagi berusaha membuat orang memahamiku, mengikuti setiap apa yang aku inginkan, tapi hari ini adalah bagaimana kau belajar mencintai malaikat-malaikatku dengan cinta yang nyata bukan hanya semu, bagaimana memberi senyuman dala hidup bukan mengharap senyuman, bagaimana aku bisa ada dalam ketiadaanku bukan tiada dalam keberadaanku, bagaimana aku bisa menjaid bagian dari Matahari yang cahanya selalu diharapkan oleh semua makhluq di bumi.

Dengan begitu aku bisa belajar untuk mengenal mutiara sebelum aku mengenal cangkangnya, mungkin terkesan mustahil dan tidak mungkin, tapi bukankah tidak hal yang tak mungkin??

Terima kasih untuk Malaikat-malaikatku, untuk Matahari, Purnama, Bintang, dan pastinya Bumi yang memberiku pelajaran dan  perjalanan terindah dalam hidup.